Header Ads

Mahasiswa Memilihlah

Aku tak punya bakat khusus. Aku hanya dihujani hasrat akan rasa penasaran. – Albert Einstein –

Hidup selalu dihadapkan dengan sebuah pilihan. Namun tak selamanya pilihan menggaransi keindahan, bahkan ada kalanya ia mengantarkan seseorang pada kubangan lumpur yang begitu jijik nan bau. Maka, dalam memahat sebuah pilihan perlu dibarengi kesadaran. Dari itu kenapa dalam Islam terdapat syarat-syarat seorang bisa naik ke kursi tinggi pemimpin (umara), satu di antaranya merupakan sehat akal.

Berbicara soal pemimpin, saat ini ribuan mahasiswa Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan akan menghadapi pemilu. Tradisi politis yang sudah sangat lumrah di kalangan mahasiswa itu mengharuskan satu atau lebih calon pasangan mendeklarasikan diri siap mengampu tugas berat kepresidenan.

Budaya politik yang ada di regional kampus ini tak kalah serunya Pilkada DKI 2017 lalu, saat ada dua pasangan Ahok – Djarot dan Anies – Sandi yang berhasil masuk pemilu putaran kedua, setelah pemilu pertama Agus – Silvy tersingkir karena hanya mendapatkan suara 1/3 % saja dari 100 % suara hak  pilih warga DKI Jakarta. Kendati kontestasi Pilkada sudah biasa dalakoni setiap 5 tahun sekali, isu SARA yang diangkat ternyata mampu mengundang keramaian dari sabang sampai merauke. Aneh. Ajaib. Tak masuk di akal. Itulah politik.

Ya, seribu macam cara senantiasa diamalkan oleh pasangan calon (paslon) demi meraih kursi jabatan politis. Walau sama dengan tradisi politik Pilkada, Pilgub, atau Pilpres sungguhan di Indonesia, namun pilpresma yang di kampus jelas berbeda dengannya. Serupa tapi tak sama. Jika di arena politik sungguhan pencalonan menjadi seorang pemimpin itu diiming-imingi oleh honorarium yang “wah”, maka bagi mahasiswa yang menyalonkan diri menjadi Presma atau Wapresma bukan itu yang menganga. Justru masalah besar sudah tersaji dengan sebegitu semrawut bagi paslon Presma dan Wapresma terpilih kelak.

Pada dasarnya siapapun yang terpilih, maksudnya jabatan politik sungguhan (seperti Pilbup, Pilgub, dan pil.... pil.... lainnya) ataupun Pilpresma yang gak terlalu serius ini yaitu tetap sama-sama hadir untuk menawarkan alternatif dari pelbagai persoalan. Meski kelak tak mampu mengentas permasalahan, namun setidaknnya sedikit meredam dengan berjuta usaha adalah angan dari setiap pemilih.

Pilpresma UNISA 2017

Seperti yang sudah saya bahas di atas, bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) UNISA Kuningan pada tahun ini akan segera menggelar pemilu. Calon yang terdiri dari dua pasang Presma dan Wapresma pun sudah lulus uji dan kini tengah mengalami masa kampanye –yang mungkin bagi kedua pasang itu kali perdananya ia harus dihadapkan dengan masa sulit.

Paslon nomor urut 1 yaitu ada sosok prestisius Yanto Susanto sebagai calon Presma yang lahir dari Prodi Teknik Informatika dan menggaet calon wakil Presma dari Prodi PGSD yaitu Ine Agustine. Wanita cantik jelita yang pasti menjadi magnet bagi mahasiswa pada saat memilih nanti pada tanggal 27 April 2017.

Sedang pada nomor urut 2 ada pasangan yang tak kalah prestisius, religies, namun tidak semanis paslon nomor urut 1. Karena pada paslon 2 ini semuanya lelaki. Kendati demikian, mereka berdua memiliki hati yang lentur di balik ketegasan dan kegagahannya sebagai “lanange jagad”. Yaitu Adi Darya sebagai calon Presma dan M. Rifqi Kamaludin yang digaet sebagai calon wakilnya di panggung kontestasi ala Kampus kita ini.

Paslon paling gokil di dunia dan akherat
(Pamflet Paslon Nomor Urut 2)
Menurut saya, pasangan nomor urut 2 ini adalah pasangan yang cukup relevan untuk menyandang UNISA 1 2017 ini. Pasalnya, selain mereka berdua berangkat dari sama satu Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), mereka berdua juga memiliki latar belakang santri. Hal ini jelas menjadi satu pacu yang selaras dengan moto UNISA: Menjadikan Perguruan Tinggi Unggul dalam Membangun Insan Ulul Albab, yang Cerdas Dzikir, Cerdas Pikir dan Profesional.

Santri cenderung lebih dianggap mampu menampung bibit potensi. Mari kita buka lembar sejarah, bagaimana ketika seorang santri yang diceritakan dalam film layar lebar berjudul “Sang Kiai”. Tercatat dalam lembaran lusuh sejarah, ketika kolonial asing mengecam Islam pada masa penjajahan nan begitu menyiksa, dengan tanpa lelah santri senantiasa menjadi tameng bangsa dan Islam di Nusantara. Kita juga pasti ingat ketika tentara Hizbullah -yang beranggotakan santri, menjadi pilar pertahanan Islam kali pertama di masa jajahan.

Masa pahit yang dialami oleh bangsa ini tak mungkin begitu saja bisa kita lupakan, Bung Karno juga kerap mengingatkan: Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah). Alhamdulillah, pasangan calon nomor urut 2 ini sudah sangat kenyang mengenyam teras pesantren, Adi Darya misalnya, bahkan sampai detik ini ia masih mengaji, mengabdi dan menjadi santri di salah satu pondok pesantren di Kertayasa Mujtama’ul Huda yang diasuh oleh KH. Abdul Rosyad. Kurang lebih jika dihitung secara matematis, Adi sudah mengudap teras pesantren 10 tahun lamanya sejak SMP dulu. Kini, di semester 6 masa penjelajahan ilmu di suatu kampus baru Islami UNISA, Adi mendeklarasikan diri menjadi seorang calon Presma periode 2017 - 2018.

Sedangkan M. Rifqi Kamaludin, yang dipercayai Adi mampu menjadi partner yang ‘sip’ dan cocok pun pernah mengudap teras pesantren 12 tahun lamanya. Mulai dari pesantren lokal Ainurrofiq hingga Pesantren luar daerah Mifathul Huda 2 Ciamis dan Miftahul Huda 394 Tasikmalaya. Siapa yang tak kenal dengan pondok pesantren asuhan KH. Khoer Affandi atau akrab disapa Uwa Ajengan yang namanya begitu agung itu?

Santri jebolan pesantren Miftahul Huda sudah banyak tersebar di setiap pelosok negeri, dengan pelbagai potensi membina dan memimpin masyarakat di kala ia mukim. Alhamdulillah, sampai detik ini hati tak pernah bisa berbohong, sebagai mahasiswa konvensional di kampus UNISA, saya merasa bangga dengan adanya teman dari kalangan santri yang memiliki keberanian luar biasa mendeklarasikan diri menjadi calon Presma dan Wapresma.


Akhir kata. Kepada siapa lagi kita akan menaruh harapan setir biduk kapal perjalanan kepemimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNISA jika bukan kepada santri?

***

10 comments:

  1. kenapa kau tak calonkan sendiri dirimu di kubangan politik itu,

    ReplyDelete
  2. Salam 2 jari dong ya?

    ReplyDelete
  3. Salam 2 jari dong ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Kurang sopan ah. Salam ya lima jari dong. :D

      Delete
  4. semoga bisa terpilih jadi presma periode 2017-2018,dan bisa menjadi pemimpin yang amanah dan bisa membawa kampus kita lebih baik dari sebelum nyah.amin,,,,hidup UNISA hidup PAI Semeeter 6.,salam dua jari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapapun yang kelak terpilih, semoga mereka mendapatkan pengalaman besar dan ilmu manfaat.

      Delete
  5. bagi saya siapa aja yg menjadi nomor satu yg penting bisa menyatukan mahasiswa...dan kalo dilihat dari kacamata pandangan sekilas . seorang pemimpin harus mempunyai visi misi yg jelas. kendati dari itu jangan sampai visi misi saja sampai menjiplak atau plagiat. seorang mahasiswa cerdas atau pemimpin cerdas tidak seperti itu...dan ujung ujungnya timbul kekecewaan kembali terhadap amanah mahasiswa. saya kaget dan saya merasa malu ketika melihat dari salah satu paslon ternyata visi misi nya sama dengan BEM UNIMAL (UNIVERSITAS MALLIKUSSALEH LOKSUMAWE PAPUA)..apakah itu kebetulan apakah benar plagiat? jangan sampai mahasiswa salah pilih karena kedepan Unisa ada di tangan anda sebagai mahasiswa/mahasiswi penerus bangsa. visi misi ajah plagiat/menjiplak, apalagi kedepanya presma tidak kreatif dan inopatif....jangan sampai temen temen dibodohi...sejatinya mahasiswa adalah ujung tombak bangsa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mana bro bukti plagiatnya? Biar saya gantung di pohon tomat nih paslon 2 kalo terbukti plagiat. :D

      Delete

Jadikan satu katamu sebagai llipatan pahala.

Powered by Blogger.