Header Ads

Asrama Sekolah

Kuningan adalah daerah yang terlihat begitu menawan. Memiliki bingkai harapan besar sebagai daerah bersumber daya alam melimpah. Di dalamnya menyimpan begitu banyak titik perbedaan. Agama. Tradisi. Budaya. Di sana pula terlahir sosok lelaki bernama Zulfikar. Zulfikar sangat menikmati hidup di tengah riuh gemuruhnya angin meniup dedaunan, pohon-pohon menjulang, dan gemercik air yang jernih khas pegunungan

Sejak lahir, sosok lelaki  yang berpenampilan biasa-biasa saja itu, sudah dididik dengan ritme keislaman oleh orang tuanya. Mengaji di Madrasah Diniyah, sekolah di Madrasah Ibtidaiyah, memperkuat dasar ilmu agama di Madrasah Tsanawiyah serta mendalaminya di Madrasah Aliyah. Orang tuanya memiliki harapan besar terhadap anaknya, agar kelak yang meneruskan posisi Bapaknya sebagai pemuka agama, menjadi pemimpin di kampungnya dengan kultur islamiyah yang telah diwariskan oleh para pendahulunya tidak lain adalah Zulfikar si anak semata wayang.

Pak Kharisma, orang tua Zulfikar, sangat menjunjung ta’dhzim dan kemuliaan para pejuang Islam yang dulu menjalani perang berdarah dengan para penjajah dan kafir harbi yang ingin mencabut kesucian Islam dari muka bumi. Wali Sanga, yang juga ia banggakan, selalu ia kirim hadiah fatihah saat memimpin tahlil, ba’da shalat, maupun saat berziarah kubur. Terkadang dua tahun sekali ia berpetualang religi. Bersama jemaat, ia menyusuri tapak tilas dan pasarean Waliyullah itu. Mulai dari Jawa Barat, Tengah, Timur hingga Madura bahkan pulau Bali. Begitu besar cintanya kepada pejuang Islam, karena atas berkat dan kegigihan mereka semua, Islam dapat menjadi agama mayoritas di tanah air ini. Pak Kharis mempercayai karomah yang mereka dapatkan dari Sang Maha Kasih.
***

“Zul, selulusnya dari MTs nanti, kamu bapak pesantrenkan ya ke Jawa?”

“Tidak mau, Pak. Zul pengen nge-asrama di MAN saja,”

“Kenapa Zul tidak mau? Di sana Zul akan mendapat ilmu agama yang lebih banyak, dan teman-teman yang lebih banyak juga. Karena di Pesantren itu orang-orang dari berbagai kota akan berkumpul, menimba ilmu bersama,”

“Zul tidak mau, Pak. Kata teman Zul di Pesantren tuh gurunya galak-galak. Pokoknya Zul tidak mau, Pak,”

“Bapak janji, kalau Zul tidak betah di sana dan merasa gurunya galak-galak bapak akan membawa Zul kembali pulang dan mengasrama di MAN yang Zul mau itu,” Bujuk ayah kian menjadi, demi anaknya agar menjadi anak yang memiliki pengetahuan agama lebih, “Zul harus bisa lebih pintar dan lebih baik dari bapak,” tukas Pak Kharis. Namun, tanpa bubuhan kata-kata, Zul langsung pergi ke kamar. Mengurung diri.

Keesokan harinya Pak Kharis memutuskan memangkir keinginannya terhadap Zul.
“Baiklah jika Zul tidak mau mesantren, bapak hanya mau Zul bisa jaga diri jika nanti Zul jadi mengasrama di MAN itu. Dan Zul jangan sampai terbawa arus yang tidak benar ya!?”

“Insya Allah, Pak. Zul akan selalu membawa nasehat bapak itu kemanapun Zul pergi.”

***

Picture byhttps://41.media.tumblr.com
Di MAN itu, Zul menjadi murid kesayangan Pak Murtah. Murtah adalah guru sekaligus pengasuh asrama. Mirisnya, orang-orang telah mengetahui betul bahwa Pak Murtah adalah sesosok yang memiliki paham beragama yang berbeda dengan kebanyakan orang di kita.

Murtah adalah seorang yang memiliki tingkat fanatisme level atas dalam beragama. Jika Mark mengatakan bahwa agama adalah candu, maka bagi Murtah agama adalah tim sepak bola dan penganutnya adalah fans, yang sekedar cukup tahu bahwa tim sepak bola itu didirikan tahun berapa, pelatihnya siapa, dan pemainnya siapa saja. Murtah menginterpretasikan Masjid dan Musholla seperti lapangan tempat tim kesayangannya berlaga, di mana ada Masjid dan Musholla di situlah ia mengobarkan dakwahnya. Tanpa retensi. Selalu mendeportasi budaya dan tradisi.

Tak jarang ia mengajarkan kepada murid-muridnya di asrama, termasuk murid kesayangannya; Zulfikar, bagaimana mendeportasi paham-paham yang tak sejalan dengan mereka menggunakan dalil; hadits dan Quran –yang padahal bersifat sekuler. Pasalnya, karena Zul belum memiliki dasar ke-Tauhid-an yang kuat, kemurnian hatinya kian terkontaminasi oleh paham asing nan artifisial.

Zul dan teman lainnya yang berada di asrama sekolah kini menggores fitrah Islam dengan senjata. Tanpa sepengetahuan orang tua, mereka pergi ke Suriah, negeri yang tengah dikuasai oleh manusia-manusia berpaham radikalisme. Selama di negara yang memiliki julukan Craddle of Civilization itu, Zul dan kawan-kawan selalu disuguhi nutrisi jihadisme dan doktrin-doktrin menyimpang lain. Menguatkan diri mereka untuk dibaiat dan siap menjadi pengantin yang akan meledakkan bom bunuh diri di manapun. Pertengahan Ibu Kota kerap menjadi bidikan utama. Melukai banyak orang entah karena apa salahnya. Menebar teror akut nan membisingkan. Sedang Zulfikar sendiri meyakini apa yang ia lakukan adalah jihad fii sabilillah.
DUUUAAARRRRRR...!!! Zulfikar melakukannya. Mati bermandikan darah dan luka di sekujur tubuhnya.

Pak Kharisma harus menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Meski kemudian pahit meratapi jenazah anaknya yang mati membawa gelar teroris ditolak dikuburkan di kampung kelahirannya oleh warga. Alhasil, Pak Kharis dan segenap keluarga membopong jenazah Zul untuk dimakamkan di tengah hutan belantara. Paska Zul dikebumikan, Pak Kharis senantiasa berziarah ke makam anak semata wayangnya. Merapal doa. Mengharap rido dan ampunan dari Sang Maha Penguasa lautan rahmat.

No comments

Jadikan satu katamu sebagai llipatan pahala.

Powered by Blogger.