Header Ads

Perempuan Itu

Hari yang diselimuti cuaca sejuk pagi har, Ujang kepikiran bahwa hari ini ia diajak ke Cirebon oleh Royan. Ujang sejenak pergi ke sawah miliknya untuk mengontrol padi yang mulai akan memasuki masa panin beberapa hari lagi, jaraknya yang tidak jauh dari rumah memudahkan Ujang untuk sering mengontrol dan merawat sawah itu.

Sawah acapkali menjadi alasan Ujang untuk tidak pergi kemanapun. Sawah telah menjadi istri kedua baginya, karena selain menjadi sumber pencaharian, sawah kerap memberikan kepuasan untuk dinikmati, dicintai, dan tidak untuk ditinggal pergi. Ujang yang asli orang pegunungan sangat pandai mengasuh dan merawat sawah, mulai dari ngabajakngagaroknandur sampai panen. Ada satu hal yang sangat ia sukai dari hasil kerjanya di sawah, yaitu melihat butiran padi yang seperti meloncat-loncat girang menyambut hari panen saat iangeprak pare.

Tidak banyak orang menyangka Ujang bisa hidup tercukupi hanya karena sepetak sawah. Karena dulunya ia hanyalah pedagang bubur ayam di kota yang konon tidak laku karena buburnya tidak enak. Mungkin karena faktor bukan bakat seorang koki, akhirnya Ujang pun kembali ke kampung halaman. Ujang ingin sekali membuktikan kepada teman-temannya yang sudah sukses di kota seperti Rido, Argo dan Pebi bahwa hidup di kampung juga bisa makmur tidak kalah oleh mereka yang berada di tengah hiruk pikuk kota; Jakarta.

Dengan sawah Ujang bisa makan nasi kapanpun dan tidak pernah kelaparan, karena beras dari hasil nyawah bisa menjadi stok beberapa bulan kedepan paska panin. Ujang merasa sangat sejahtera dengan sepetak sawah yang dimilikinya, ditambah dengan sekarang beras yang dijual sebagian dari hasil paninnya banyak diminati konsumen di pasaran, karena berasnya berkualitas bagus dan enak. Tidak sia-sia Ujang membeli sawah. 

Ketika ingin membeli sawah, Ujang harus merelakan warung bubur ayamnya untuk di jual, dan terpaksa untuk sementara ia pun tidak punya penghasilan. Hatinya bergumam dengan penuh keyakinan, “Dengan membeli sawah aku yakin tidak akan mati walau lapak bubur sudah tidak ada lagi. Toh pagi, siang, sore dan malam hari yang dicari orang-orang adalah nasi. Kita yang diberikan kekayaan alam yang ruah, walau di kampung, kenapa tidak mencoba mengolahnya? Malah ngebela-belain pergi ke kota-kota. Padahal di kota besar sekalipun belum tentu kita bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak kok yang berangkat dari kampung berpakaian rapi punya ijazah tinggi pula tapi ujung-ujungnya jadi tukang bubur juga, salah satunya, ya, aku ini. Ah, aku sudah tidak tertarik lagi untuk pergi dan mencari kerja di kota. Lebih baik di kampung sajalah jadi petani.”

Ujang yang tengah duduk di teras rumah sepulang mengontrol sawah saat itu kedatangan Royan, “Jang ayo kita berangkat,” namun Royan bingung karena Ujang masih belum bersiap-siap akan pergi, padahal malamnya Royan sudah mengingatkan esok hari akan pergi ke Cirebon saat mereka jaga malam di pos ronda, dan Ujang mengiyakannya, “kok belum siap-siap, Jang?”

“Iya Roy, maaf, saya gak bisa ikut euy.”

“Lho, kenapa?”

“Saya harus memanin padi hari ini. Saya sempat lupa padi di sawah sudah menguning. Kalo tidak dipanin, bisa-bisa padi saya habis dimakan tikus.”

“Ah, kamu ini ada-ada saja. Sudahlah sekarang kita ke Cirebon dulu, ini ada hal yang jauh lebih penting dari padi, Jang. Kita bisa jadi miliyarder sekarang, jangan sia-siakan kesempatan ini, Jang!”

“Maaf Roy, saya tidak bisa ikut.”

“Ah, ya sudahlah.”

Roy pun pergi begitu saja, hanya meninggalkan sapaan salam kekesalannya. Namun sebetulnya Ujang telah berhasil menjadi pembohong besar terhadap temannya pada pagi itu. Alasannya tidak bisa ikut bersama Royan hanyalah akal-akalan saja. Menurutnya itu adalah alasan terbaik agar ia tidak ikut terjerumus pada jurang kehinaan menjadi seorang pengedar narkoba. Ia menyadari betul teman sebayanya itu sedang dililit hutang begitu banyak. Roy sudah berisetri, tapi sudah hampir satu tahun isterinya mengidap gangguan jiwa yang berakar dari kelakuan kasar suaminya. Wanita mana yang kuat menjalani hidup mengurusi tiga orang anak tanpa dinafkahi oleh suami? Roy sangatlah kejam. Ujang sempat ingin menjauh dan tidak ingin lagi berteman dengan orang macam Roy. Sudah berulangkali Ujang memberikan motivasi dan masukan nasehat kepada Roy, namun hasilnya nihil. Apa boleh buat, Ujang hanya mampu meratapi hidup seorang temannya yang saat ini malah terjerumus pada jurang kegelapan itu.

Selepas menikmati teh di pelataran rumah, Ujang berniat pergi membeli lauk pauk ke warung yang ada di pinggir jalan raya depan gang rumahnya. Keluar dari gang, Ujang terkejut melihat Lita, isteri Roy, yang tengah berlari-lari di sekujur jalan raya. Lita yang dikenal warga sebagai orang tidak waras itu sedang mencoba memberhentikan kendaraan-kendaraan yang tengah berlalu-lalang, tidak tanggung-tanggung Lita berani memberhentikan kendaraan sampai berdiri di tengah jalan sembari menggupaikan tangan kepada sopir elf, angkot, kendaraan pribadi maupun pengendara motor. Penasaran dengan perbuatannya itu, Ujang hanya terdiam di muka gang dan melihat sedang apa isteri temannya itu. Kasihan, Lita menjadi tontonan banyak orang di pagi menjelang siang itu. “Yang gila itu bukan kamu, Lita. Tapi suamimu,” gumam Ujang.

Dari sekian banyak kendaraan mobil dan motor yang ia hadang sejadinya, tidak ada satupun yang mau menolongnya. Sempat ada kendaraan yang berhenti, bibir perempuan itu seperti mengucapkan sesuatu tanpa suara. Ujang semakin penasaran, mendekatinya, dan mencoba memahami apa yang diucapkan Lita isteri temannya yang sekarang sudah tidak mengenalnya lagi, dia hanya berucap: “Aku numpang ke Cirebon, ke Cirebon, ke Cirebon.”

Ujang tak kuasa melihat Lita berbuat seperti itu, “Mulut itu terus mengucap kalimat yang sama, jelas aku melihatnya depan mata. Kakinya terus berlari mengikuti naluri. Tangannya menggupai tiada henti, kerudung lusuh menutupi sebagian rambutnya, sandal yang nyaris putus dipakainya menapaki aspal jalan. Apa yang sebenarnya kamu cari, Lita? Apa kamu ingin menyusul suamimu dan mencegah perbuatannya? Tapi kamu bisa tahu dari mana suamimu sedang pergi ke kota yang kamu ucap itu? Malang nian Lita. Seharusnya kamu sudah tenang berada di pangkuan Menteri Sosial, kamu seharusnya menjalani terapi kejiwaan. Tapi aku yakin, bukan kamu yang sebetulnya mengidap gangguan jiwa, Lita.”

Akhirnya Ujang membawa Lita pulang ke rumah, dan membujuknya agar tenang. Dan sesampainya di rumah, lagi-lagi Ujang dihadapkan dengan kebingungan karena tidak memahami apa yang Lita inginkan. Lita terkadang menangis, lalu tertawa. Ujang sabar menunggu kedatangan ibu mertua Lita yang selama ini menjadi pengganti Roy untuk mengurusnya.

“Bu, ini Lita. Maaf tadi saya ketemu dengannya di jalan raya. Saya khawatir dan memutuskan untuk membujuk Lita pulang.”
Picture By: https://encrypted-tbn2.gstatic.com

“Terima kasih, nak Ujang. Ibu tadi kewalahan untuk mengejar Lita. Dia tiba-tiba membuka pintu lalu berlari kencang sekali. Ibu tidak tahu dia lari kemana. Ibu mencarinya ke mana-mana tapi tidak ketemu. Untunglah Lita bertemunya dengan nak Ujang. Sekali lagi terima kasih udah menolong keluarga Ibu, nak.”

“Sama-sama, Bu. Ujang pamit dulu, Bu. Assalamu’alaikum.” Ujang pun menyebak tirai pintu, dan lekas pergi.

"Wa'alaikumsalam." Jawabnya.

No comments

Jadikan satu katamu sebagai llipatan pahala.

Powered by Blogger.